Selasa, 10 Januari 2012

arsip 2011 | Julian Aldrin Pasha: Presiden T­idak Perlu Pencitraan

WAWANCARA
Julian Aldrin Pasha: Presiden T­idak Perlu Pencitraan
Selasa, 11 Januari 2011 , 02:28:00 WIB

JULIAN ALDRIN PASHA


RMOL. Pembatalan kenaikan tarif kereta api (KA) kelas ekonomi
menimbulkan spekulasi pemerintah SBY hanya mencari pencitraan. Namun,
hal itu dibantah juru bicara Presiden Bidang Dalam Negeri Julian
Aldrin Pasha.

Meski begitu, menurut Julian, kenaikan tarif KA ekonomi tidak
dibatalkan. "Bukan dibatalkan tapi ditunda," tegas Julian.

Seperti diketahui, PT Kereta Api Indonesia (KAI) menaikkan tarif KA
ekonomi pada Sabtu (8/1). Dasar kenaikan tarif KA ada­lah Peraturan
Menteri Perhubu­ngan (Permenhub) No. KM 35/2010 tertanggal 23 Juni
2010, yang perubahannya dilakukan melalui Permenhub No. KM 48/2010
tertanggal 4 Agustus 2010 Tentang Tarif Angkutan Orang Dengan Kereta
Api Kelas Ekonomi.

Kenaikan tarif tersebut terbagi dalam 5 jenis kereta api, meliputi
kereta api jarak jauh sebanyak 11 kereta dengan besaran kenaikan
antara Rp 4.000-Rp 8.500 dengan persentase 16 persen.

Kemudian, kereta api jarak menengah sebanyak 9 kereta antara Rp 1.000-
Rp 5.500 atau 17 persen, lalu kereta api jarak dekat sebayak 30
perjalanan antara Rp 500-Rp 2.000 atau 45 persen.

Sementara, Kereta Rel Diesel (KRD) sebanyak 10 kereta Rp 500-Rp 1.500
atau 34 persen, dan Kereta Rel Listrik (KRL) se­banyak 23 kereta
dengan kenai­kan antara Rp 500-Rp 2.000 atau naik 62 persen.

Namun, pada Minggu (9/1), pe­merintah menyatakan me­nunda kenaikan
tarif tersebut. Penundaan kenaikan tarif KA ekonomi karena waktunya
yang dianggap tidak pas.

Julian juga membantah penun­daan kenaikan tarif KA ekonomi tersebut
hanya untuk pencitraan pemerintah SBY di masyarakat. Berikut kutipan
wawancara dengan Julian:

Kok kenaikan tarif KA eko­nomi dibatalin?
Kita memang perlu melakukan itu. Apakah perlu disesuaikan ta­rif­nya
dan apakah akan dipertim­bangkan lagi. Tapi coba ditanya­kan kepada
Menteri Perhubungan Freddy Numberi soal ini. Sejauh yang kita lihat
tidak ada kenai­kan. Jadi, kalaupun ada penye­suaian tarif itu belum
terjadi.

Sampai kapan penundaan tarif itu?
Wah, saya belum bisa mem­berikan keterangan soal ini. Sebab, kajiannya
ada di instansi atau kementerian terkait. Yang mempunyai informasi,
data dan melakukan pengkajian ulangnya adalah Kementerian Per­hu­
bungan melalui Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian
Perhubungan, Tundjung Inde­rawan.

Jadi, kalau ada pengumuman atau pernyataan dari pejabat ter­kait, itu
bukan dibatalkan, ke­mung­kinan akan ditunda saja.

Atau begini saja, anda minta keterangan dulu kepada menteri terkait.
Sebab, ini domainnya men­­teri perhubungan, dan ini su­dah kesekalian
kalinya saya ditanya soal itu.

Ada yang menganggap pem­ba­talan tarif KA ekonomi ini se­ba­gai
pencitraan Presiden saja. Komentar Anda?
Oh tidak. Presiden tidak perlu pencitraan karena yang dilakukan
pemerintah adalah berupaya se­maksimal mungkin untuk kebai­kan
masyarakat.

Kalau pun memang dilakukan penyesuaian tarif tentunya sete­lah melalui
proses pengkajian ulang yang dikelola secara kom­prehensif dan tepat.
Jadi, harus ada dasar dan alasan untuk itu.

Saya tegaskan sekali lagi, se­bagai juru bicara Presiden, saya hanya
menjawab sesuatu yang sifatnya sudah final. Bukan asum­si atau sesuatu
yang me­mang belum begitu jelas.

Tapi hal yang sama pernah dilakukan Presiden. Ketika men­jelang Pemilu
Presiden 2009, SBY pernah melakukan pen­ci­traan dengan menurun­kan
harga BBM. Bagaimana komen­tar Anda?
Kalau itu dikaitkan juga de­ngan pencitraan, kami tidak pernah
melihatnya seperti itu. Sebab, tidak ada pertimbangan dari pemerintah
soal (pencitraan) itu. Pemerintah SBY bekerja se­penuhnya agar apa
yang dilaku­kan bisa bermanfaat bagi rakyat.

Kalaupun ada subsidi (BBM), diharapkan tepat sasaran. Kalau­pun
subsidi ini dikurangi atau dicopot, itu memiliki alasan yang kuat.
Tapi mungkin saja dalam pengkajian ulang itu memang tidak sesuai
target, tidak tepat sasaran dan tidak memenuhi apa yang diinginkan
rakyat. Jadi, saya tekankan sekali lagi, semua itu tidak ada
hubungannya dengan pencitraan ya. [RM]

http://www.rakyatmerdeka.co.id/news.php?id=14577

--
"One Touch In BOX"

To post : @googlegroups.com
Unsubscribe : -unsubscribe@@googlegroups.com

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus

Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.

www.idepintar.blogspot.com

◄ Newer Post Older Post ►
 

© Kini Aku Tahu Powered by Blogger