Senin, 13 Februari 2012

arsip 2012 | Garam Saja Impor

Garam Saja Impor
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Petani garam bersiap menjaring ikan di Pinggir Papas, Kecamatan
Kalianget, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Sabtu (12/2). Produksi garam
di Madura tahun ini gagal karena terganggu cuaca buruk.

Jakarta, Kompas - Sebagai negara kepulauan dengan panjang pantai 5,8
kilometer dan laut seluas 81.000 kilometer persegi, Indonesia ternyata
tak mandiri dalam memproduksi garam. Untuk memenuhi kebutuhan garam
sekitar 3 juta ton, Indonesia harus mengimpor garam 1,8 juta ton per tahun.

Volume impor itu terus bertambah seiring meningkatnya kebutuhan dalam
negeri untuk keperluan industri dan konsumsi rumah tangga rata-rata 2
persen per tahun.

"Kesalahan strategi dalam membangun industri garam nasional adalah
penyebab utama terjadinya hal itu. Usaha hanya dikembangkan di Pulau
Jawa (dan Madura) yang sebetulnya memiliki musim kemarau yang pendek
sehingga produksi garam selalu tidak optimal," kata Wakil Menteri
Perindustrian Alex SW Retraubun di Jakarta, Sabtu (12/2).

Pilihan pengembangan industri garam di Pulau Jawa-Madura dan sedikit di
luar Jawa selama ini perlu dimaklumi karena semua infrastruktur yang
dibutuhkan, seperti pelabuhan dan jalan raya yang memadai, hanya
tersedia di wilayah ini. Akibatnya, daerah-daerah di luar Jawa, seperti
di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memiliki musim kemarau hingga delapan
bulan, yang seharusnya pantas menjadi basis produksi garam nasional,
selalu terabaikan.

Selama ini, menurut Alex, produksi garam nasional hanya rata-rata 1,2
juta ton per tahun yang dihasilkan dari lahan seluas 19.600 hektar yang
tersebar di sejumlah daerah di Jawa, Madura, Sulawesi Selatan, dan Bali.
Kebutuhan nasional sejak tahun 2009 sekitar 3 juta ton per tahun.

Perusahaan Negara Garam bahkan hanya memproduksi 280.000 ton per tahun
dari total lahan 5.750 hektar di Madura. Namun, tahun 2010, perusahaan
ini hanya memproduksi 23.000 ton sehingga seluruh kebutuhan praktis
dipenuhi impor.

Selain untuk konsumsi rumah tangga (24 persen), kebutuhan terbesar
justru untuk bahan baku industri plastik (50 persen). Kebutuhan lain
adalah untuk bahan baku industri kosmetik dan cairan infus (16 persen),
pengeboran minyak (4 persen), dan industri aneka pangan.

Untuk meningkatkan produksi garam nasional, saat ini sudah dibangun
pabrik garam di Nusa Tenggara Timur oleh investor Australia. Adapun
investor dari Taiwan sudah menyampaikan komitmennya untuk berinvestasi
di NTT.

Nusa Tenggara Timur dipilih karena musim keringnya berlangsung delapan
bulan per tahun.

Anomali cuaca

Menurut Alex, kondisi pergaraman nasional mencapai titik terendah tahun
2010 karena musim hujan nyaris berlangsung sepanjang tahun. Total
produksi hanya 24.000 ton sehingga total impor melonjak menjadi 2,976
juta ton.

Di Rembang, Jawa Tengah, misalnya, produksi garam tahun lalu hanya
sekitar 20.000 ton atau anjlok 84 persen dibanding tahun 2009, yakni
143.753 ton.

Bahkan, di Madura, pulau yang selama ini merupakan produsen terbesar
garam nasional, pada tahun 2010 sama sekali tidak ada produksi.
Akibatnya, semua pemilik lahan, penggarap, dan buruh angkut tidak
menikmati hasil dari garam.

Setiap hari selama enam bulan musim garam, Mei-November, petani masih
tetap bekerja di lahan, antara lain memasukkan air laut ke dalam lahan
agar bisa jadi garam. Setiap hari pula calon bakal kristal garam disapu
hujan sehingga sepanjang tahun 2010 petani gagal panen.

"Padahal, setiap musim petani di Madura mampu memproduksi garam berkisar
80-100 ton. Sekarang petani malah menanggung beban kerugian minimal Rp
3,5 juta per hektar," ungkap Abdurrahman, petani garam di
Pinggirpapasan, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep.

Cuaca tak menentu juga memukul petani garam di Jeneponto, Takalar,
Pangkajene Kepulauan, dan Maros, Sulawesi Selatan.

Ketergantungan terhadap impor yang begitu tinggi ikut memukul petani
garam lokal. Garam asal Australia dijual seharga Rp 800 per kilogram dan
garam dari India Rp 650 per kilogram. Tak sedikit pula petani garam yang
terjerat utang kepada tengkulak. Akibatnya, mereka dipaksa menjual harga
Rp 200-Rp 300 per kilogram.

"Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 21 Tahun 2007 yang menetapkan harga
garam petani untuk kualitas satu Rp 325 per kilogram dan kualitas dua Rp
250 per kilogram ikut memperparah penderitaan petani garam," kata H Muh
Hisyam, petani garam Desa Ragung, Kecamatan Pangarengan, Sampang.

Wellem Tuflasa, petani garam di Aerkia, Kelurahan Merdeka, Kecamatan
Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, NTT, menambahkan, selama ini garam
dijual sangat murah, Rp 17.000-Rp 25.000 per karung dengan berat 50
kilogram, tergantung cuaca.

(JAN/HEN/ACI/SIN/SIR/REK/MKN/DEN/KOR/ANS/HRD/DIA/WIE)

http://cetak.kompas.com/read/2011/02/14/0459321/garam.saja.impor

--
"One Touch In BOX"

To post : @googlegroups.com
Unsubscribe : -unsubscribe@@googlegroups.com

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus

Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.

www.idepintar.blogspot.com

◄ Newer Post Older Post ►
 

© Kini Aku Tahu Powered by Blogger