Rabu, 04 Juli 2012

Operasi Sebelum Subuh

  • Operasi Sebelum Subuh

    PRIA kekar itu cepat membuka pintu samping truk. Rojali, karyawan agen aneka penerbitan di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat, melihat pengemudi truk boks Isuzu Elf itu mematikan mesin. "Pria itu lalu berkata: 'Turunkan semua majalah Tempo!'" katanya. Pengemudi menurut, ia menurunkan 300 majalah berita mingguan itu dari tumpukan pelbagai media terbitan Senin pagi, pekan lalu.

    Menurut Rojali, truk baru akan meninggalkan lapak agen di depan Hotel Melati, Harmoni, pada Senin pagi buta itu. Setiap pagi, sekitar pukul 03.00 hingga 04.30, ratusan karyawan agen mengambil koran dan majalah dari tempat ini. Mereka kemudian mendistribusikannya ke loper atau sub-agen, sebelum diantar ke rumah pelanggan. Rojali mengatakan, setelah semua Tempo diturunkan, si pria kekar terus membuntuti truk sampai lapak di Jalan Hayam Wuruk.

    Rojali menuturkan sepuluh orang berperawakan besar telah datang pada pukul 2 dinihari. Duduk sambil ngopi di warung tak jauh dari lapak, mereka baru mendekat begitu mobil boks bergambar majalah Tempo datang dari percetakan di Palmerah, Jakarta Barat. Selain garang, para pria itu "tajir". Mereka membayar Rp 40 ribu buat majalah yang biasa dijual Rp 27 ribu. Dari satu truk itu, mereka mengeluarkan Rp 12 juta. Menurut Rojali, seorang pemborong mengatakan, "Semua yang ada saya beli."

    Terbit dengan sampul berjudul "Rekening Gendut Perwira Polisi", majalah Tempo menulis aneka transaksi yang dinilai tak wajar oleh sejumlah jenderal kepolisian. Rekening para perwira tinggi itu, beserta sejumlah polisi berpangkat lebih rendah, diguyur fulus dari sumber tak jelas. Laporan inilah yang diduga memicu aksi borong pada Senin pagi selepas subuh itu.

    Menurut seorang saksi mata, jatah 2.425 majalah buat agen di lapak Harmoni diborong lalu diangkut ke mobil pickup Isuzu Panther yang ternyata sudah disiapkan. Tumpukan uang Rp 100 ribu, total Rp 85 juta, dibungkus koran, diserahkan ke seorang agen. "Sebentar, kurangnya saya ambil dulu," ujar satu pemborong, yang lalu menelepon seseorang. Lima menit kemudian, datang pria lain dengan taksi, membawa kekurangan Rp 12 juta. Transaksi beres, kawanan ini pergi menuju arah Jalan Thamrin.

    Aksi borong majalah Tempo juga dilakukan di agen Jalan Pramuka, Jakarta Timur. Sekelompok orang mendatangi lapak milik Asran Saragih, seorang agen, dan membeli 700 majalah. Begitu juga di Sentra Bursa Media, Jalan Budi Utomo, Jakarta Pusat. Stok 400 majalah milik seorang agen habis diborong seseorang yang datang mengendarai sedan patroli Timor bertulisan "Polsek Sawah Besar".

    "Operasi" dilanjutkan siang harinya. Hery Winarno, wartawan situs berita detik.com, yang segera meliput ke agen-agen setelah mendengar aksi borong Tempo, menyaksikan kedatangan patroli itu pada Senin tengah hari. Di lapak dekat halte busway Budi Utomo, kata dia, polisi mencari-cari sisa majalah Tempo.

    Menurut Hery, polisi datang berseragam lengkap. Di dadanya tertera nama Bahrudin. Datang dengan mobil yang sama, bertulisan "Polsek Sawah Besar", polisi itu bertanya, "Masih ada majalah Tempo lagi?" Sang agen menjawab, "Habis, Pak, kan Bapak yang memborong tadi pagi." Sang polisi bertanya kembali, "Belum ada kiriman lagi?" Sang agen menggeleng.

    Bukan cuma ke agen, majalah yang belakangan diprotes gambar sampulnya oleh polisi ini juga diburu sampai ke kios-kios majalah. "Senin pukul sembilan pagi ada orang dari polsek datang," kata Nyonya Sihombing, pemilik kios majalah di Stasiun Depok Lama. "Dia bilang disuruh atasannya beli semua majalah Tempo."

    Kurir penjualan pembawa majalah juga dicegat. Muji, kurir untuk lapak-lapak di Jakarta Barat, didatangi pria besar ketika mengantar majalah ke Slipi. Orang itu menyatakan ingin membeli semua majalah, yang masih terikat di sepeda motor Muji. Ia hendak memborong dengan harga Rp 30 ribu per majalah. Menurut Muji, sang pembeli berkata, "Mau beli majalahnya, Mas, disuruh bos saya."

    Muji tak bersedia menjual jatah langganan. Ternyata pria itu membuntuti dengan sepeda motor Suzuki Satria. Begitu Muji menyerahkan majalah ke pemilik lapak di Srengseng, ia langsung memborongnya. Tak menyerah, ia menyatakan hendak membeli 15 majalah yang masih dipegang Muji. "Saya jawab, ini buat langganan, saya enggak berani menjual," ujar Muji.

    Kepala Divisi Sirkulasi dan Distribusi Tempo Windalaksana mengatakan aksi borong majalahnya dilakukan serentak pada Senin subuh di semua distributor wilayah Jakarta. Total sekitar 30 ribu majalah raib sebelum sampai ke pembaca. Winda menyatakan tak mengetahui pemborong. Menurut dia, sejak Ahad siang sehari sebelum diedarkan, beberapa orang bahkan telah datang ke percetakan.

    Winda mengatakan orang yang datang ke percetakan Temprint itu menyatakan akan membeli semua majalah. Permintaan tersebut ditolak lantaran semua majalah merupakan jatah agen. Penjualan eceran di percetakan biasanya baru bisa dilayani Senin siang setelah semua jatah agen didistribusikan. Terus-menerus ditolak, seorang pria membentak, "Saya ini mau beli, bukan minta!"

    Para pria datang kembali Ahad sore. Mereka terus menunggu sampai majalah dikirim ke agen pada Senin dinihari. "Mereka mengikuti semua mobil yang membawa majalah kami," ujar Winda.

    Tiga orang yang mengaku polisi dari Kepolisian Wilayah Kota Besar Bandung juga mendatangi kantor perwakilan Tempo di Bandung. Senin malam pekan lalu, ketiganya datang mengendarai Daihatsu Taft putih, menemui Kepala Sirkulasi Tempo Bandung Didit Setiaji. Mereka menanyakan jumlah tiras dan agen penjualan di ibu kota Provinsi Jawa Barat tersebut. "Saya suruh mereka datang saja ke pusat agen majalah di Cikapundung," kata Didit.

    Keesokan harinya agen majalah di Jalan Cikapundung dihampiri dua orang yang mencari majalah Tempo. "Mereka bilang dari Polwiltabes Bandung," kata Juliana, 25 tahun, karyawan agen. Keduanya banyak bertanya tentang peredaran majalah dan titik-titik penjualannya. "Mereka sampai minta alamat sub-agen kami, tapi tidak saya kasih," kata Juliana.

    Kepala Kepolisian Wilayah Kota Besar Bandung Komisaris Besar Imam Budi Supeno membantah menyuruh anak buahnya mengecek peredaran Tempo. "Wah, enggak ada itu, kerjaan masih banyak kok ngurusin Tempo," kata Imam.

    Sapu bersih majalah edisi "Rekening Gendut" pun dilakukan di Bali. Agen majalah Melati di Singaraja, sejak Senin pekan lalu, beberapa kali menerima telepon bernada ancaman agar tak menjual majalah ini. "Kantor kami ditelepon terus-menerus, katanya jangan menjual majalah Tempo," ujar seorang karyawan agen yang menolak disebut namanya. Saat majalah datang pada Selasa sorenya, dua orang berpakaian rapi jali dan berdasi membeli semua stok majalah agen tersebut.

    Tempo menelusuri tempat penjualan majalah di kota yang jauh dari ibu kota provinsi, Denpasar, tersebut, tapi baik di agen maupun kios, Tempo sudah ludes. "Dibeli polisi," kata seorang karyawan toko.

    Juru bicara Kepolisian Resor Buleleng, Komisaris Made Sudirsa, menyatakan tak tahu-menahu ada anak buahnya yang memborong majalah Tempo. "Kami tak pernah mengeluarkan perintah seperti itu," katanya.

    Sumber Tempo yang dekat dengan petinggi Markas Besar Kepolisian menyebutkan pembelian besar-besaran ini dilakukan oleh perwira yang kesal dengan isi pemberitaan. Menurut dia, aksi borong bukan merupakan perintah tapi "gerakan gotong-royong" oleh jaringan perkawanan para perwira. "Pembicaraannya dari kawan ke kawan, jadi sulit dilacak," ujarnya. "Kalau perintah wajib, pasti ada yang keberatan dan 'bernyanyi'."

    Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Markas Besar Kepolisian Inspektur Jenderal Edward Aritonang membantah polisi terlibat aksi borong. Ia menyatakan memang ada anggotanya membeli majalah lebih dari satu. "Untuk apa kami memborong? Dari mana uang buat membeli sebanyak itu?"

    Oktamandjaya Wiguna, Cheta Nilawaty (Jakarta)Erick P. Hardi, Anwar Siswadi (Bandung)Made Mustika (Bali)

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/07/05/NAS/mbm.20100705.NAS133999.id.html


www.idepintar.blogspot.com

◄ Newer Post Older Post ►
 

© Kini Aku Tahu Powered by Blogger