Minggu, 29 Juli 2012

Satryo Soemantri Brodjonegoro: Mentalitas Makelar

Mentalitas Makelar
Jumat, 30 Juli 2010 | 03:46 WIB

Satryo Soemantri Brodjonegoro

Akhir-akhir ini rakyat banyak mengeluh mengenai melambungnya harga bahan pokok. Harga semakin tidak terjangkau oleh masyarakat secara umum.

 

Di sisi lain, daya beli masyarakat semakin menurun karena peluang pekerjaan tidak menjanjikan masa depan cerah. Makroekonomi kita sepertinya menggambarkan bahwa Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi cukup signifikan, 4-6 persen, tetapi kenyataan di lapangan menunjukkan daya beli masyarakat sangat melemah dan harga bahan pokok meroket terus tanpa kendali. Akibatnya, penduduk Indonesia menjadi semakin miskin atau jumlah penduduk miskinnya bertambah terus setiap saat.

Penulis pernah tinggal di AS dan Jepang untuk waktu cukup lama, ternyata harga bahan pokok di negara tersebut tidak pernah naik sama sekali selama bertahun-tahun. Harga terjangkau oleh kalangan masyarakat miskin sehingga mereka dapat bertahan hidup. Sudah seharusnya pemerintah memberikan jaminan hidup bagi rakyat melalui berbagai bentuk layanan publik, dan itulah hakikat kita bernegara.

Kebijakan belum mandiri

Terjadinya kenaikan harga yang terus-menerus adalah akibat dari ketergantungan Indonesia terhadap komponen impor. Hal ini menunjukkan kita belum bisa mandiri dalam segala hal, dan posisi tawar Indonesia di forum internasional selalu lemah. Pengaturan harga barang impor tidak dapat ditentukan oleh kita sendiri. Akibatnya, masyarakat selalu harus menanggung bebannya, harga naik terus, tetapi daya beli masyarakat melemah.

Seharusnya kita menjadi bangsa mandiri karena kita dikaruniai kekayaan luar biasa, yaitu sumber daya alam, sumber daya manusia, kondisi geografis, kondisi iklim, keragaman sumber daya hayati, biodiversitas yang tinggi, hutan, keragaman sumber energi terbarukan, dan lainnya. Pada kenyataannya, setelah hampir 65 tahun merdeka, belum tampak gejala kemandirian bangsa, bahkan semakin terpuruk dalam ketergantungan luar biasa.

Hal ini dimanfaatkan oleh kalangan internasional, di mana Indonesia dijadikan pasar bagi produk negara negara lain. Dengan penduduk lebih dari 230 juta, Indonesia adalah pasar yang menggiurkan bagi negara mana pun. Seandainya kita cerdas dan cerdik, sebenarnya kita punya pasar domestik yang sangat potensial, tetapi kita belum punya kemampuan produksi andal sehingga belum dapat memanfaatkan pasar domestik tersebut.

Coba kita perhatikan industri produktif apa yang kita miliki saat ini, tidak ada. Industri produktif yang pernah ada malahan ditutup atau dijual ke investor asing. Untuk kebutuhan pokok saja kita masih harus impor sehingga harganya naik terus. Beras saja kita masih harus impor, padahal penulis sempat berkeliling ke desa-desa pertanian dan menemukan fakta bahwa beras hasil panen petani di sana sangat banyak, terjadi surplus suplai beras yang ternyata tidak dapat dimanfaatkan secara nasional.

Akibatnya, beras menumpuk di desa dan busuk. Ironis. Inilah kelemahan pendekatan makroekonomi yang tidak memerhatikan kondisi mikro di desa atau kondisi antarwilayah. Negara yang majemuk seperti Indonesia tidak dapat ditangani dengan kebijakan seragam untuk seluruh wilayah dan pendekatan makroekonomi sudah tidak tepat lagi.

Mentalitas makelar

Bagaimana kita membangun kemandirian bangsa? Kebijakan mikroekonomi memang harus diterapkan sesegera mungkin, tinggalkan kebijakan makroekonomi. Di samping itu, faktor penting yang harus diperhatikan adalah keharusan perubahan mentalitas dari makelar menjadi pembuat. Kita membutuhkan komunitas pembuat yang mampu menghasilkan karya dan produk yang bernilai tambah tinggi.

Dengan nilai tambah yang tinggi, kita menjadi pemain di pasar domestik ataupun internasional, tidak bergantung lagi kepada dunia internasional dan menjadi bangsa yang mandiri. Dengan kemandirian tersebut, pemerintah dapat mengendalikan berbagai layanan publik, termasuk menjamin kebutuhan pokok yang terjangkau masyarakat secara keseluruhan.

Mentalitas makelar saat ini sangat mengemuka karena mereka ingin cepat kaya dengan menyalahgunakan kondisi Indonesia yang majemuk dan luasnya wilayah. Salah satu kendala penyediaan kebutuhan pokok bagi masyarakat adalah masalah distribusi dan penyediaan logistik. Mata rantai jaringan dari pusat sampai masyarakat di desa sangat panjang, dan ini disalahgunakan para makelar dalam bentuk kartel sehingga menyebabkan ekonomi biaya tinggi.

Ternyata biaya tinggi ini harus dipikul masyarakat sehingga menjadi beban lagi. Regulasi dan birokrasi di pemerintahan masih terkesan memberatkan masyarakat dan ini diakibatkan oleh mentalitas makelar yang sangat melekat di jajaran eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Mentalitas makelar akan memberikan keuntungan semu dan tidak menghasilkan nilai tambah, bahkan menyebabkan ketergantungan yang luar biasa. Mentalitas makelar akan menyebabkan bangsa kita menjadi sangat tidak produktif. Kita tidak butuh makelar, tetapi kita butuh para pembuat yang andal agar masyarakat menjadi makmur dan sejahtera.

Satryo Soemantri Brodjonegoro Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia

http://cetak.kompas.com/read/2010/07/30/03465985/mentalitas.makelar



www.idepintar.blogspot.com

◄ Newer Post Older Post ►
 

© Kini Aku Tahu Powered by Blogger