Minggu, 26 Agustus 2012

arsip 2010 | Marwan Ja'far: Berjihad Lewat Fikih Lingkungan

Berjihad Lewat Fikih Lingkungan
Marwan Ja'far KETUA FRAKSI PKB DPR RI

Tiga isu besar yang acap melanda dunia ketiga dan mayoritas muslim
adalah terorisme, demokrasi, dan ekologi. Faktanya, memang di negeri
muslim pula ketiga hal tersebut berada dan lebih banyak disorot. Khusus
isu ekologi, hal ini amat jelas betapa negeri muslim tidak mengindahkan
aturan yang ada dalam agama sendiri.

Seiring karut-marut ekologis, rasanya perlu dikedepankan suatu
pendekatan religius yang dikenal dengan istilah fikih lingkungan.
Pengistilahan fikih lingkungan memang sudah pernah digulirkan oleh KH
Ali Yafie dalam bukunya Merintis Fikih Lingkungan Hidup (1994) dan KH
Sahal Mahfudz lewat bukunya Nuansa Fikih Sosial (1994).

Fikih menempati reputasi penting dalam peradaban Islam. Sampai-sampai
seorang pemikir muslim dari Maroko, Muhammad Abid al-Jabiri, dalam
bukunya Takwin al'Aql al-'Arabi (1991) menyatakan bahwa peradaban Islam
adalah peradaban fikih.

Ini karena hukum Islam merupakan salah satu ruang ekspresi pengalaman
agama yang amat penting.

Fikih lingkungan memiliki asumsi bahwa fikih adalah al-ahkam
al-'amaliyah (hukum perilaku) yang bertanggung jawab atas pernik-pernik
perilaku manusia agar selalu berjalan dalam bingkai kebajikan dan
kebijakan serta tidak mengganggu pihak lain (baca: lingkungan), sehingga
kemaslahatan dapat terwujud. Dalam kapasitas ini, kebenaran fikih diukur
oleh relevansinya dalam menggiring masyarakat biotis ke arah yang lebih
makmur, lestari, dan dinamis. Orientasi dan misi dari fikih lingkungan
tidak lain adalah konservasi dan restorasi lingkungan, selaras dengan
cita-cita Islam rahmatan li al-'alamin.

Upaya konservasi alam dalam Islam dapat kita lacak pada diri Nabi SAW,
para sahabat, dan ulama salaf. Hal ini dapat dilihat, misalnya, beliau
pernah mengajarkan cara konservasi alam melalui pencanangan konsep hima,
yakni lahan konservasi. Dalam konteks sekarang, lahan tersebut sepadan
dengan istilah taman kota, kawasan hijau, suaka margasatwa, dan sejenisnya.

Kawasan-kawasan itu tidak diperkenankan untuk penduduk, terutama untuk
kepentingan yang sifatnya eksploitatif.

Kita juga bisa melihat dari ajaran konservasi lingkungan ala Nabi yang
terkandung dalam ritual ibadah haji. Orangorang yang datang ke tanah
haram (Mekah-Madinah) untuk berhaji sangat berhati-hati, termasuk dengan
berbagai tanaman. Kalau mencabut satu tanaman saja, orang yang berhaji
bisa didenda dengan seekor kambing. Sebab, tanaman merupakan bagian dari
lingkungan sehingga barang siapa merusaknya sedikit apa pun akan
mendapat teguran langsung dari Allah. Apa yang telah dilakukan Nabi
Muhammad kala itu adalah sebuah lompatan pemikiran yang sangat luar
biasa dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup manusia. Di sini, Mekah
dan Madinah telah menjadi teladan bagi penjagaan lingkungan yang sangat
strategis dicontoh oleh umat Islam.

Nabi Muhammad juga sangat menjaga air zam zam. Air zam zam, bagi
masyarakat Mekah dan Madinah, sangatlah berharga. Makanya, Nabi
memerintahkan umat Islam menjaganya. Dari air zam zam inilah masyarakat
Arab mendapat kemudahan dalam mendapatkan air bersih.

Bahkan bagi setiap orang Indonesia yang pergi haji, oleh-oleh wajib yang
selalu dinantikan adalah air zam zam. Ini artinya, komitmen Nabi dalam
menjaga saluran hidup bersih dengan air zam zam sangat terasa manfaatnya
bagi umat Islam.

Khalifah Umar bin Khaththab pernah bertawasul dengan Sungai Nil. Dalam
tawasulnya, beliau berkata,"Ya Allah, inni atawashshalu bi ma'i nil,
as'aluka lisa'adati Mishra."Dengan air Sungai Nil, Khalifah Umar
berharap rakyat Mesir mendapatkan kemakmuran dan kesejahteraan dari
Allah. Apa yang dilakukan Khalifah Umar dengan tawasulnya tersebut
meniscayakan penjagaan terhadap Sungai Nil.

Kalau Sungai Nil dijaga, dilindungi, dan dikelola dengan baik, rakyat
Mesir akan mendapat kemakmuran dan kesejahteraan. Dan terbukti, Sungai
Nil telah menjadi jalur perdagangan yang luar biasa, sehingga bisa
membuka peluang-peluang strategis dalam meningkatkan ekonomi masyarakat
Mesir.

Dalam ranah fikih, di antaranya kita mengenal istilah tanah kosong (mawat).

Guna menghidupkan tanah ini, para ulama membagi menjadi tiga macam cara,
yaitu ihya', iqtha' dan hima. Ihya' adalah pe

manfaatan tanah kosong oleh individu tertentu untuk kepentingan dalam
kehidupan orang muslim pribadi. Dalam hal ini, ada perbedaan mengenai
keabsahannya. Mazhab Hanafi berpendapat, kalau tanpa izin dari
pemerintah, maka tidak sah. Sedangkan mazhab Syafi'i berpendapat
sebaliknya. Adapun iqtha' merupakan pemanfaatan tanah yang dipelopori
oleh pemerintah, di mana pemerintah memberikan tanah kepada orang-orang
tertentu. Pemberian ini ada kalanya untuk dimiliki atau diambil
manfaatnya sementara waktu. Kalau dalam konteks sekarang, barangkali
hampir sama dengan transmigrasi. Kemudian hima, yakni pemerintah
menetapkan lahan tertentu sebagai area lindung yang difungsikan untuk
masyarakat umum. (Lihat Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islam wa
Adillatuhu, Juz V, Dar al-Fikr, Damaskus,1989).

Di sinilah terlihat sebuah upaya konservasi lingkungan hidup. Dalam arti
bahwa upaya menghidupkan tanah mati itu juga jangan membuat tanah
menjadi mati. Ini berarti menghidupkan tanah mati (ihya' almawat)
merupakan sebuah terobosan pemikiran progresif ulama dalam menggerakkan
pemberdayaan masyarakat. Tanah yang gersang harus direstorasi demi
kemaslahatan umat. Mashlahah Pengetahuan dan pemahaman tentang mashlahah
(maqashid al-syari'ah) merupakan hal yang sangat penting dalam fikih.
Sebab, kepada landasan hukum itulah setiap persoalan dalam kehidupan
manusia dikembalikan.

Hukum tidaklah selalu merupakan barang jadi yang siap pakai, melainkan
harus ditemukan. Dalam banyak hal, penegakan dan pelaksanaan hukum tidak
hanya sekadar penerapan hukum, tapi juga sering merupakan penemuan hukum
(rechtsfinding). Karena itu, penemuan hukum merupakan conditio sine
quanon dalam setiap sistem hukum yang ada.

Para ahli hukum Islam menyadari hal ini, sehingga muncul adagium yang
berbunyi "teks-teks hukum itu terbatas adanya, sementara kasus-kasus
hukum tiada terbatas"(al-nushush mutanahiyah, wa amma al-waqa'i' ghair
mutanahiyah). Di sinilah perlunya ijtihad.

Menjaga lingkungan hidup (hifzh albi'ah) jelas berada dalam bingkai
mashlahah. Al-Quran hanya menyinggung tentang prinsip-prinsip konservasi
dan restorasi lingkungan, seperti larangan perusakan atau larangan
berlebih-lebihan (israf) dalam pemanfaatannya. Prinsip-prinsip ini
dinamakan mashlahah mu'tabarah. Namun, sejauh mana kadar
berlebih-lebihan serta teknis operasional penjagaan tidaklah ditemukan
dalam Al-Quran. Kita harus berijtihad sendiri bagaimana, misalnya, tanah
pinggir sungai supaya tidak terkena erosi. Kebutuhan untuk menjaga
lingkungan tetap niscaya untuk dijalankan, karena lingkungan hidup
merupakan penopang segala kehidupan ciptaan Tuhan.

Nah, melalui fikih lingkungan (fiqh albi'ah), pesan lingkungan dari
agama bisa ditransfer dan menjadi inspirasi baru bagi pengelolaan
lingkungan hidup. Rumusan fikih lingkungan sejatinya dapat digunakan
sebagai panduan tindakan preventif agama supaya perilaku manusia tidak
melawan alam.

Walhasil, menjaga lingkungan bukan lagi sekadar wajib kifayah, melainkan
berhukum wajib `ain, yakni kewajiban yang hanya bisa gugur apabila
setiap insan di muka bumi ini menunaikannya. Inilah produk fikih
lingkungan (fiqh al-bi'ah) yang mewajibkan menjaga lingkungan dan
mengharamkan merusak lingkungan.

http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2010/08/27/ArticleHtmls/27_08_2010_011_010.shtml?Mode=1


--
"One Touch In BOX"

To post : @googlegroups.com
Unsubscribe : -unsubscribe@@googlegroups.com

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus

Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.

www.idepintar.blogspot.com

◄ Newer Post Older Post ►
 

© Kini Aku Tahu Powered by Blogger