Rabu, 01 Agustus 2012

Di Pulau Sebatik, Gas Tak Pernah Meledak

Heboh tentang ledakan elpiji sampai ke telinga Muhamad Jafar. Namun
pemilik toko kelontong yang menjual gas di Pulau Sebatik, Kabupaten
Nunukan, Kalimantan Timur, ini tenang-tenang saja."Di sini, gas tak
pernah meledak," ujar lajang 30 tahun ini kepada Tempo kemarin.

Pemilik CV Diana di Pasar Sungai Nyamuk ini yakin akan keamanan barang
dagangannya. Sebab, elpiji produksi Pertamina tidak menjangkau Sebatik.
Pulau di ujung utara Kalimantan Timur yang terbagi dua masuk wilayah
Indonesia dan Malaysia itu berjarak lebih dari 2.300 kilometer dari
Jakarta.

Sebanyak 80 ribu warga Sebatik Indonesia menggantungkan kebutuhan gas
pada pasokan dari negeri seberang, Kota Tawau di Negara Bagian Sabah,

Malaysia, berbagi dengan 25 ribu saudara mereka di Sebatik Malaysia.
Saban hari ratusan tabung berwarna hijau-merah dan kuning produksi
Petronas melintas batas negara, masuk ke Indonesia. Penduduk menyebutnya
"tong ges", bahasa Malaysia untuk tabung gas.

Menurut Nur Janah, 45 tahun, warga setempat, kualitasnya lebih yahud
dibanding elpiji produksi Pertamina. Takarannya pantang kurang."Kalau
biasa kita pakai habis sebulan, pasti selalu habis sebulan,"kata warga
Desa Sungai Nyamuk ini.

Berbeda dengan saat dia memakai elpiji di kampung halamannya di
Makassar, Sulawesi Selatan."Kadang habis cepat, walaupun pemakaian
sama," ujarnya.

Tong ges juga tahan banting.

"Setiap orangnya kirim, dilem

par dari mobil bak tidak kenapa-kenapa,"kata dia.

Warga setempat, yang kebanyakan pendatang dari Sulawesi Selatan, tidak
tahu kapan gas dari negeri jiran mulai merambah Sebatik."Sebelum minyak
tanah dihapus pun kami sudah pakai punya Malaysia," kata perempuan yang
sudah 10 tahun tinggal di Sebatik ini.

Harganya pun relatif stabil, sekitar 35 ringgit atau Rp 105 ribu per
tabung. Paling mahal 38 ringgit atau Rp 114 ribu jika Polisi Maritim
Malaysia sedang rajin merazia di laut perbatasan. Regulator dan slangnya
sama dengan elpiji, yang harganya di Tarakan, tiga jam perjalanan laut
ke selatan Sebatik, bisa mencapai Rp 150 ribu per tabung 12 kilogram.

Tong ges, juga gula dan minyak goreng, merupakan ba

rang subsidi pemerintah Malaysia. Istilah mereka,"barang kawalan",
sehingga haram untuk diekspor. Namun kebutuhan ekonomi seakan tidak
memandang batas negara. Pedagang Indonesia punya banyak cara
menyelundupkan barang kawalan ke Indonesia."Kalau dari jauh melihat
perahu Polisi Maritim, langsung dibuang ke laut,"kata Nur.

Aparat Indonesia tidak mengenakan bea impor atas perdagangan lintas
negara itu.

"Kami anggap ini tradisi,"ujar Kepala Kantor Pembantu BeaCukai Pulau
Sebatik Hamsah.

Sebab, kata dia, kehadiran tong ges sangat membantu warga perbatasan,
yang tidak terjangkau elpiji Pertamina.

"Dulu pernah ada yang jual elpiji, harganya sampai Rp 170 ribu. Mana ada
yang kuat beli?"● REZA MAULANA

http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2010/08/02/ArticleHtmls/02_08_2010_008_016.shtml?Mode=1

--
"One Touch In BOX"

To post : @googlegroups.com
Unsubscribe : -unsubscribe@@googlegroups.com

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus

Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.

www.idepintar.blogspot.com

◄ Newer Post Older Post ►
 

© Kini Aku Tahu Powered by Blogger