Sabtu, 11 Agustus 2012

Kasus Innospec, Kejahatan terhadap Kemanusiaan?

DUGAAN PENYUAPAN
Kasus Innospec, Kejahatan terhadap Kemanusiaan?
Kamis, 12 Agustus 2010 | 03:22 WIB

Pengadilan Inggris dan Amerika Serikat, yang menemukan adanya suap dari PT Innospec terhadap pejabat di Indonesia terkait pelarangan bensin bertimbal, mengingatkan Ahmad Syafrudin, Koordinator Komite Pembebasan Bensin Bertimbal, akan pengalamannya sembilan tahun lalu.

Tahun 2001, Syafrudin dan kawan-kawan gigih memperjuangkan pelarangan bensin bertimbal. Namun, perjuangan itu seperti menemukan jalan buntu. Pencanangan bensin nontimbal sejak 1996 oleh Presiden Soeharto melalui Program Langit Biru selalu mentah dalam implementasi. Sebelumnya, tahun 1993, Earth Summit di Rio De Janeiro, Brasil, merekomendasikan penghentian penggunaan bensin bertimbal di seluruh dunia.

Syafrudin mencurigai adanya tangan tersembunyi, semacam persekongkolan, di belakang penggagalan ini. Ia sempat merilis kecurigaannya ini. Namun, tak ada yang menanggapi.

Setelah tertunda, Mei 2006, pemerintah akhirnya melarang penggunaan bensin bertimbal di Indonesia. Setelah pelarangan tersebut, dugaan adanya persekongkolan itu pun dilupakan.

Namun, tabir persekongkolan mulai terkuak. Dimulai dari investigasi aparat berwenang dua negara, yaitu Serious Fraud Office/SFO (Inggris) dan The Securities and Exchange Commission (AS), untuk menyelidiki dugaan suap oleh Innospec Ltd, perusahaan yang berpusat di Inggris dan AS.

Akhirnya, 26 Maret 2010, Hakim Lord Justice Thomas dari pengadilan di Inggris menemukan fakta, sejak tahun 2000 melalui mitra bisnisnya di Indonesia, Innospec Ltd menyuap dua mantan pejabat agar tetraethyl lead (TEL) tetap digunakan dalam produksi bensin Pertamina.

Dalam putusan pengadilan itu disebutkan, dua pejabat penerima suap tersebut adalah Rachmat Sudibyo, mantan Direktur Jenderal Migas, dan Suroso Atmomartoyo, mantan Direktur Pengolahan PT Pertamina. Rachmat disebut menerima suap lebih dari 1 juta dollar AS. Suroso menerima sekitar 8 juta dollar AS. Tujuan penyuapan ini, sebagaimana disebutkan dalam putusan itu, adalah ”untuk menghalangi pengaturan atau penerapan aturan mengenai pelarangan TEL atau bahan pembuat bensin bertimbal berdasarkan pertimbangan lingkungan di Indonesia”.

Berbekal putusan ini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai bergerak. Mereka berkoordinasi dengan SFO untuk menyelidiki keterlibatan pejabat Indonesia. Namun, agaknya perkara ini tak gampang bagi KPK. Sejauh ini belum satu tersangka pun ditetapkan walau sudah enam orang dicegah bepergian ke luar negeri. Pejabat yang disebut-sebut menerima suap juga keras membantah, termasuk mitra Innospec di Indonesia, PT Soegih Interjaya.

Ketika KPK masih berkutat dengan penyelidikan, pada 5 Agustus 2010, The Securities and Exchange Commission mengumumkan Innospec Ltd terbukti bersalah menyuap pejabat dari Indonesia.

Kalangan masyarakat sipil yang dulu bergabung dengan Komite Pembebasan Bensin Bertimbal (KPBB) mendesak KPK segera menuntaskan masalah ini. Apalagi, kasus ini bukan suap atau korupsi biasa. Peneliti Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), Dyah Paramita, mengingatkan, kasus ini termasuk kejahatan terhadap hak rakyat untuk mendapatkan lingkungan yang sehat dan bersih dari zat berbahaya.

Penelitian KPBB menyebutkan, konsentrasi timbal (Pb) dalam darah yang tinggi bisa merusak fungsi ginjal, alat reproduksi, menyebabkan tekanan darah tinggi, merusak sistem saraf, kemandulan, hingga menurunkan kecerdasan. ”Jika benar ada suap yang menghambat pelarangan penggunaan bensin bertimbal, pelakunya melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan,” katanya. (ahmad arif)

http://cetak.kompas.com/read/2010/08/12/03223127/kasus.innospec.kejahatan.terhadap..kemanusiaan



www.idepintar.blogspot.com

◄ Newer Post Older Post ►
 

© Kini Aku Tahu Powered by Blogger