Jumat, 10 Agustus 2012

Syafii Maarif: Jika Tak Kuat, Lepaskan

PENANGKAPAN BA'ASYIR
Syafii Maarif: Jika Tak Kuat, Lepaskan
Rabu, 11 Agustus 2010 | 02:57 WIB

Jakarta, Kompas - Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif meminta semua pihak melihat dahulu fakta hukum terkait penangkapan terhadap Amir Markaziyah (pemimpin utama) Jamaah Ansharut Tauhid Abu Bakar Ba’asyir. Semua pihak, termasuk kepolisian, juga harus memegang prinsip praduga tak bersalah.

”Kalau jelas bersalah dan itu kuat, ya hukum harus ditegakkan. Kalau tidak, lepaskan,” ujar Syafii Maarif di Yogyakarta, Selasa (10/8).

Di Jakarta, pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar juga berharap polisi diberikan waktu mengusut kasus yang diduga melibatkan Ba’asyir. ”Tantangan polisi dalam kasus ini amat besar. Jaringan terorisme amat luas dan keterlibatan Ba’asyir di dalamnya masih harus dibuktikan. Hal itu juga menjadi pertanyaan kita bersama,” tuturnya.

Namun, Bambang juga berharap polisi tidak bertindak berlebihan, misalnya dalam menangkapi orang yang diduga terlibat aksi terorisme. Tindakan yang berlebihan hanya menimbulkan tanda tanya dan menghilangkan simpati masyarakat.

Sebaliknya, Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Ifdhal Kasim menilai, penangkapan Ba’asyir oleh polisi tak sejalan dengan prosedur Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Karena itu, Komnas HAM akan mengajukan keberatan kepada Kepala Polri.

”Kami akan dalami kasus ini. Jika terbukti tak sesuai prosedur KUHAP, kami ajukan keberatan kepada Kapolri,” kata Ifdhal di Yogyakarta, Selasa.

Menurut Ifdhal, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme melarang penangkapan seseorang dengan cara kekerasan. UU itu hanya memfasilitasi penyimpangan dari KUHAP terkait konteks masa penahanan tersangka teroris.

Di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Selasa, Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri dan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Ito Sumardi memastikan tak ada rekayasa terkait penangkapan Ba’asyir. Masyarakat diminta mengikuti penanganan kasus itu sehingga menjadi jelas duduk masalahnya.

Ito juga menyebutkan, Polri mencegah (larangan ke luar negeri) seorang warga negara Perancis berinisial A, pemilik mobil Mitsubishi Galant di Sumedang, Jawa Barat, yang akan dipakai untuk aksi teror. A diduga masih di Indonesia. (eng/nwo/ana)

http://cetak.kompas.com/read/2010/08/11/02570661/syafii.maarif.jika.tak.kuat.lepaskan



www.idepintar.blogspot.com

◄ Newer Post Older Post ►
 

© Kini Aku Tahu Powered by Blogger