Minggu, 02 September 2012

arsip 2010 | JM Muslimin: Penghujung Ramadan dan Keberpihakan

Penghujung Ramadan dan Keberpihakan
Oleh JM Muslimin Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta


DI antara tawaran Islam yang unik bagi pembinaan mental-spiritual
manusia adalah integrasi antara ibadah dan muamalah. Ibadah sering
dipahami sebagai aneka ritual dengan aksentuasi pada interaksi vertikal
antara Sang Khalik dan makhluk, sementara muamalah adalah tindakan
sehari-hari dengan fokus kegiatan pada interaksi di antara sesama makhluk.

Dalam puasa, manifestasi integrasi tersebut terlihat; puasa adalah olah
fi sik, mental, dan spiritual sekaligus yang menggabungkan antara dimensi
ibadah dan muamalah. Di dalam puasa, fi sik kita dituntut untuk mengubah
pola dan frekuensi makan, mental kita dituntut untuk tetap dalam
kesabaran, dan spiritual kita dituntut untuk melakukan puasa dengan
tulus, jujur, dan hanya berharap rida dan karunia-Nya.

Perubahan pola konsumsi dan frekuensi makan tidaklah mudah.

Banyak orang dalam kehidupan sehari-hari mereka menjadi sangat
bergantung dengan selera, rasa, dan frekuensi serta jenis makanan tertentu.

Memisahkan orang dari makanan yang ia suka, selera yang ia gandrungi,
rasa yang ia gemari, memerlukan upaya dan latihan serta pembiasaan
(habit formation).

Itu hanya menyangkut makanan.

Bagaimana jika menyangkut sesuatu yang lebih besar daripada makanan?
Banyak orang yang secara fi sik harus membela, mempertahankan dengan cara
apa pun dan sekuat mungkin, karena merasa ada yang mengganggu dan
mengancam kepentingan mereka.

Misal di dalam konflik pertanahan dalam kehidupan sehari-hari yang kita

lihat, biasanya orang tidak segan untuk mengerahkan sekelompok orang
kekar dan bila perlu, bersenjata tajam, untuk mengusir atau manduduki
lahan tanah tertentu. Sering juga kita saksikan, konflik-konflik fisik
yang keras, tajam, dan membara dalam partai politik tertentu disebabkan
kekhawatiran dan ketakutan akan terpisahnya orang tersebut dengan hobi,
kesenangan, dan kepentingannya. Dalam konflik hukum, banyak orang
sanggup untuk membayar pe ngacara semahal apa pun, untuk memenangi
perkara dan menjaga kepe nting an mereka. Tidak peduli apakah pembelaan
itu benar sesuai dengan hukum atau pembelaan yang setali tiga uang
dengan suap dan sogok.

Bahkan, tidak jarang pembelaan juga disertai de ngan kehadiran para de
mon stran dan pengunjung sidang pengadilan bayaran untuk mengeraskan
gema tuntutan, keangkeran, dan kekokohan sosok yang dibela.

Pendek kata, keterpisahan fi sik kita dengan semua yang kita cintai dan
gemari bukanlah hal sederhana. Benda-benda fi sik di sekitar kita sudah
sering menjadi perangkap baru. Ia menggantung kita dan membuat kita
tergantung. Manusia sering di hadap an benda tersebut bukan lagi
independent being, tapi sudah berubah menjadi dependent being. Ternyata,
menjadi tergantung dan ketergantungan adalah soal yang tidak mudah
dipecahkan. Memutus mata rantai ketergantungan (sekali lagi) membutuhkan
latihan dan pembiasaan. Maka, jelas dari sisi fisik, puasa juga berat.
Puasa mengharuskan orang menahan haus dan dahaga.

Menghindar dari selera dan kesenangan, mengendalikan fi sik dari
kecenderungan yang membatalkan. kita. Tetapi, merasakan sebagai orang
miskin belum tentu semua orang dapat mengalaminya. Kesempatan ber puasa
adalah momen partisipatoris untuk merasakan dan menghayati secara riil,
personal, langsung, dan nyata kesengsaraan orang lemah.

Kelemahan fisik, perasaan serbakekurangan, ketidakmampuan untuk memenuhi
semua hasrat dan kebutuhan, adalah kehidupan sehari-hari orang kecil,
miskin, dan terpinggirkan.

Seorang periset partisipatoris akan gagal dan tidak dapat
mendeskripsikan serta menganalisis dengan baik, jika ia masih tidak
berjarak dengan ego personal dan subjektifnya.

Periset partisipatoris tidak menghasilkan apa-apa jika ia tidak merasa
terlibat, terpanggil, dan bergumul dengan isu dan tema yang ditekuninya
secara objektif. Periset partisipatoris yang baik tidak mungkin
melakukan aktivitasnya tanpa tahu makna dan tujuan dari yang ia lakukan.
Demikian juga, perumpamaan orang yang berpuasa; menahan diri,
menghilangkan egoisme, menyebar empati, memupuk solidaritas, dan
memperkuat tali dan simpul kemanusiaan. Seorang mukmin yang berpuasa
merasakan, meng alami, terlibat, dan bergumul.

Begitu luhur makna puasa.

Begitu indah arti Ramadan.

Pertanyaan logisnya adalah seberapa jauh output puasa akan melahirkan
outcome dengan indikator-indikator konkret dalam kehidupan nyata kita
sebagai bangsa dan individu. Dalam bahasa manajemen, perlu kita
renungkan ulang; input-proses-outputoutcome-indikator.

Puasa sebagai input berarti latihan mengendalikan diri dari semua hal
yang membatalkannya. Mulai dari yang bersifat fi sik, seperti makan dan
minum, sampai hal-hal yang bersifat

nonfi sik, seperti gibah, iri, dengki, dan syahwat biologis. Sebagai
proses berarti upaya latihan yang terus-menerus yang harus dijalankan
secara rutin setiap hari di bulan Ramadan. Sebagai output berarti
latihan dengan bentuk puasa tersebut diharapkan dapat mencapai dan
meninggikan derajat takwa seseorang. Sebagai outcome berarti takwa akan
menyebabkan perubahan persepsi, pemahaman, perilaku, dan respons dalam
aktivitas sehari-hari.

Indikator perubahan tersebut tentunya harus dilihat pascaselesainya
bulan Ramadan; semakin proporsionalkah persepsi, pemahaman, perilaku,
dan respons kita terhadap semua bentuk ketidakadilan? Semakin
sensitifkah kita terhadap problem kemiskinan? Semakin nyatakah
keberpihakan kita kepada kemaslahatan dan kepenting an umum jika
dibandingkan dengan kepentingan pribadi? Begitu seterusnya.

Dus, inilah pertanyaan yang sulit dijawab. Apakah orang-orang yang
berpuasa masih berhenti pada menjalankan puasa semata sebagai proses
ritual atau lebih dari itu, puasa dimaknai sebagai kristalisasi proses
katarsis untuk penyucian jiwa yang mendorong terjadinya perubahan
perilaku? Jika puasa ditutup dan diakhiri dengan zakat fi trah, sudah
seharusnya puasa kita dapat menyucikan/menghilangkan kecenderungan
mementingkan kepentingan individu kita daripada kepentingan umum.

Tapi, sudahkah demikian? Jika hanya jatuh pada makna ritual rutin
semata, tidak banyak yang dapat kita harapkan. Bisa dikatakan integrasi
ibadah dan muamalah gagal. Tetapi, ketika puasa dan zakat fi trah dapat
dimaknai dengan sepenuh jiwa dan penuh harap serta komitmen akan
perubahan nyata dan kita realisasikan, masih ada yang boleh kita harap
sebagai salah satu titik pendorong perbaikan kolektif dan individual
kita. Hati kecil kita yang paling tahu mana jawaban yang tepat untuk
setiap diri kita.

Yang pasti, penghujung Ramadan akan segera tiba. Momen pelatihan akan
segera usai. Mudah-mudahan awal Ramadan kita rahmah, tengahtengahnya
ampunan (maghfi rah), dan akhir nya adalah pembebasan dari api neraka
(neraka di dunia dan akhirat).

Wallahu a'lamu bil-shawab.

http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2010/09/03/ArticleHtmls/03_09_2010_026_021.shtml?Mode=0


--
"One Touch In BOX"

To post : @googlegroups.com
Unsubscribe : -unsubscribe@@googlegroups.com

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus

Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.

www.idepintar.blogspot.com

◄ Newer Post Older Post ►
 

© Kini Aku Tahu Powered by Blogger