Sabtu, 22 September 2012

arsip 2010 | RHENALD KASALI : Freemium (2)

Freemium (2)
Wednesday, 22 September 2010
SAYA ucapkan terima kasih atas komentar-komentar yang saya terima,khususnya terhadap kolom pertama dari tulisan ini, pekan lalu. Benar, paradigma inilah yang berada di belakang upaya-upaya penciptaaan keunggulan daya saing negara-negara tetangga dalam memperebutkan investasi global dan meningkatkan penerimaan devisa.

Ambil saja contoh biaya perawatan kesehatan. Dokter-dokter Indonesia umumnya menerima penghasilan lebih rendah daripada rata-rata dokter di Singapura dan Malaysia. Anehnya, menurut pasien-pasien asal Indonesia yang berobat di kedua negara tersebut, total biaya yang harus dikeluarkan untuk berobat sampai sembuh di sini lebih mahal. Mereka bahkan mempromosikan berobat di sana daripada di Indonesia.

Apa sebab? Manajemen rumah sakit, cara dokter berkomunikasi dan melayani dengan kesungguhan, melakukan second opinion, sistem pemeriksaan, transportasi, fasilitas publik, birokrasi pemerintah, dan fasilitas infrastruktur teknologi informasi yang dibangun pemerintah sangat menentukan hasil akhir dan beban biaya.Termasuk akurasi pemeriksaan tentunya. Pada bagian kedua ini saya akan melanjutkannya dengan membahas dua hal: ideologi premium dan ideologi freemium.

Ideologi Premium

Kita hidup dalam peradaban “ada uang ada rupa”. Maka sudah pasti diperlukan uang besar untuk menikmati secangkir kopi di Champs-Elysees Avenue, Kota Paris; membeli satu tas kecil Louis Vuitton dengan menumpang first class Singapore Airlines. Itulah barang-barang dan layanan premium yang eksklusif yang harganya tak pernah dibuat murah. Logika eksklusif ini mewarnai pikiran kita.

Demikian pula saat membeli layanan jasa sambungan internet 10 tahun lalu.Kita membayar mahal untuk kualitas yang tak terputus, speed yang tinggi dan kapasitas yang besar.Kalau mendapat yang gratis,maka Anda harus puas dengan layanan dari Plasa. com yang sekarang dimiliki PT Telkom. Saat itu Anda cuma mendapatkan kapasitas 1 megabyte untuk memakai email dari Plasa. com. Sementara di Amerika Serikat, Yahoo saat itu sudah memberikan email free dengan kapasitas 25 megabyte.

Tetapi praktik-praktik penarifan “free of charge” di akhir abad 20 ternyata bergeser menjadi ideologi. Saya kira inilah ideologi yang sangat powerfuldi kalangan digitalgeneration. Bayangkan, dunia berubah begitu Googleyang selama itu dikenal sebagai mesin pencari yang free of charge ternyata berani memberi kita layanan memakai akun email free dengan kapasitas 1 gigabyte.

Sejak saat itulah praktik memberi secara free untuk kapasitas besar menggila. Generasi digital rupanya juga tahu persis, cara mencari uang sudah berubah. Sama seperti Inul Daratista yang tak punya album yang meledak seperti grup-grup band kenamaan, dan membiarkan nyanyiannya direkam produserproduser musik di kampung menggandakan dan menjualnya tanpa memberi royalti sama sekali.

Toh, Inul kini menjadi artis yang tak kalah kayanya dengan mereka yang bisa membeli rumah di kawasan Pondok Indah,Jakarta. Mereka memilih membagibagikan produk yang bisa didigitalisasikan secara cuma-cuma,tapi memberikan charge premiumpada jasa “live”-nya. Ideologi ini diterapkan mediamedia online yang tidak mengenakan charge seperti media-media konvensional (koran, majalah,dan televisi) berdasarkan pemuatan.

Melainkan memberikan pemuatan secara cuma-cuma,namun memungut bayaran dari iklan yang tersambung dalam bentuk “pay per view”,“pay per click” atau “pay per transaction”.Namun, untuk mencapai itu, mereka memerlukan volume yang besar.Volume yang besar itu adalah kerumunan atau traffic. Dari traffic itulah mereka mendapatkan incomebesar.

Ideologi Freemium

Saya termenung menyaksikan iklan-iklan telekomunikasi Indonesia yang dalam dua tahun terakhir ini gencar bergulat dengan perang tarif satu rupiah. Sama seperti Anda, saya pun mulanya terheran-heran dan bertanya apa benar janji-janji dalam iklan itu. Maka setahun ini pun saya membentuk tim riset untuk mempelajari kebenaran dan ideologi apa yang membentuk lahirnya tarif Rp1 (bahkan Rp0,000…..1) dan juga tarif hotel Rp28 yang ditawarkan oleh Tune Hotel di Bali belum lama ini.

Riset itu bersifat groundedyang digali secara bebas dari bawah. Untuk riset ini saya dan tim Rumah Perubahan menurunkan delapan orang peneliti—sampai akhirnya menemukan bangunan teori yang saya sebut sebagai Cracking Zone. Saya harap buku baru ini bisa terbit dua bulan ke depan dengan contohcontoh yang mungkin akan mencengangkan pembaca.

Cracking zone adalah zona baru yang dihadapi oleh bangsa ini dalam menghadapi medan yang tengah berubah yang dibentuk oleh tokoh-tokoh yang saya sebut Crackers. Crackers adalah orang yang ilmunya setingkat di atas leader, yang bukan sekadar mengubah haluan perusahaan, melainkan juga mengubah wajah industri. Crackers ini biasanya muncul sekali dalam satu dekade seperti Bill Gates dan Henry Ford, tetapi di sini ia akan muncul beberapa kali di awal abad 21 ini.

Di Indonesia saya bisa menyebut almarhum Tirto Oetomo—yang memperkenalkan air mineral Aqua—dan almarhum Sosrodjojo yang memperkenalkan minuman teh dalam botol. Keduanya telah mengubah wajah industri. Lantas apa yang dilakukan para cracker di awal abad 21 ini? Baiklah saya jelaskan singkatnya saja.Mereka menerapkan praktikpraktik ideologi freemium dengan pengetahuan organisasi yang kuat, yaitu memberikan charge mendekati zero(karena struktur organisasi dibuat sangat ramping) dan kapasitas dibuat sangat besar, namun kualitasnya tetap diberikan premium.

Temuan kami dalam industri telekomunikasi menunjukkan, XL yang dulu dikenal sebagai city-operator dengan kualitas dan tarif premium ternyata telah melakukan cracking zone dengan menurunkan tarif mendekati “zero” (almost free), masuk ke dunia freemium dan membentuk wajah baru industri. Saya pikir inilah tantangan bisnis abad ini, yang tentu juga menjadi tantangan para pemimpin.

Kita butuh layanan-layanan yang terus semakin murah, tetapi kualitasnya harus premium.Kalau tidak, ini berarti daya saing kita akan bergerak merosot terus ke bawah, lalu tenggelam ke dasar laut. Saya memimpikan tinggal di kota besar yang lalu lintasnya setenang suasana hari-hari Lebaran, dengan kualitas udara yang premium-tanpa charge! Saya kira impian ini ada pada kita semua.(*)

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI            
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/352463/



www.idepintar.blogspot.com

◄ Newer Post Older Post ►
 

© Kini Aku Tahu Powered by Blogger