Rabu, 12 Desember 2012

arsip 2010 | Akil Mochtar: Mereka Memfitnah Saya

*
13 Desember 2010
Akil Mochtar:
Mereka Memfitnah Saya

Hasil investigasi "Tim Refly" benar-benar menyodok Akil Mochtar.
Hakim Mahkamah Konstitusi yang juga bekas anggota Komisi Hukum Dewan
Perwakilan Rakyat itu disebut-sebut meminta uang Rp 1 miliar kepada
Bupati Simalungun Jopinus Ramli Saragih. Itu terjadi saat Akil menjadi
ketua panel hakim yang mengadili perkara sengketa pemilihan bupati
daerah tersebut Agustus silam.

Akil keras membantah tu duhan itu. Ia menegaskan tak pernah
menerima satu rupiah pun dari Jopinus. "Ini pembunuhan karakter," kata
pria 50 tahun itu kepada wartawan Tempo Mus tafa Silalahi, Anton
Aprianto, Ramidi, dan Yuliawati yang menemuinya Kamis pekan lalu di
ruang kerjanya di gedung Mahkamah Kon stitusi.

Anda memeras Jopinus Ramli Saragih?

Tidak. Saya bahkan tidak pernah bertemu dan berkomunikasi
dengan Jopinus selain di ruang sidang. Di sidang itu saya menjadi
ketua panel hakim sengketa pemilihan Bupati Sima lungun bersama Hamdan
Zoelva dan Muhammad Alim.

Komentar Anda tentang hasil tim investigasi itu?

Laporan itu tidak dibuat berdasarkan keterangan Jopinus
langsung, tapi testimoni tentang kejadian yang di alami dan didengar
oleh Refly Harun dan Maheswara Prabandono. Saya disebut memeras calon
nomor satu dan nomor dua pemilihan di sana. Saya juga disebut
menunjukkan hasil putusan Yusril Ihza Mahendra dan Susno Dua dji.
Kalau dikait-kaitkan begini, ceritanya jadi enak betul.

Pernah dimintai keterangan tim investigasi?

Tidak pernah. Apalagi kabar peme rasan itu masih dianggap
sumir. Juga tidak jelas karena terjadi missing link antara kesaksian
satu dan lainnya dalam laporan investigasi itu.

Kenapa Anda nilai sumir?

Hasil investigasi itu bukan keterang an langsung Jopinus. Ia
hanya satu kali ditelepon oleh tim investigasi, kemudian dicari juga
ke Batam, tapi tak berhasil. Dia kan bupati, sebenarnya cari saja di
kantor Bupati Simalungun, ala mat kantornya jelas, alamat rumahnya
juga jelas.

Anda sudah mendengar tuduhan peme rasan ini sebelum tim
investigasi dibentuk?

Jauh sebelum tim melaporkan kasus ini, saya banyak menerima
SMS bernada tuduhan serupa. Lalu saya melapor ke Ketua Mahkamah
Konstitusi Mahfud Md. Itu hampir sebulan lalu. Saya bilang, "Pak, saya
dituduh memeras Bupati Simalungun." Saya juga bilang ini semua kabar
sampah. Pak Mahfud mendukung saya.

Anda dan hakim konstitusi lainnya sering menerima SMS seperti
itu?

Saya memang sering mendapat SMS. Apalagi dari warga Papua,
hampir setiap hari. Khususnya bila putusan sudah keluar. Nomor-
nomornya tidak jelas. Dari yang mau memberi uang sampai mengancam akan
pindah kewarganegaraan ke Papua Nugini. Tapi saya tidak pernah
menanggapi SMS itu. Tidak pernah juga saya simpan. Isi SMS-SMS ini
juga pernah saya sampaikan di sela-sela Rapat Permusyawaratan Hakim.
Kami menganggap hal ini sudah biasa.

Kenapa Anda melaporkan Jopinus ke Komisi Pemberantasan Korupsi?

Saya laporkan Jopinus agar ia bisa berbicara. Hanya penyidik
yang bisa memaksa ia bicara. Refly dan Mahes wara juga otomatis akan
diperiksa meski tidak dilaporkan. Jika mereka nanti tidak bisa
membuktikan adanya pe merasan, terbukti mereka memfitnah saya.

Mengapa Anda memilih melaporkan hal ini ke Komisi Pemberantasan
Korupsi?

Saya tahu betul kredibilitas lembaga ini, karena saya pernah
ikut mengonsep lembaga ini. Kalau melapor ke kejaksaan dan polisi,
saya bisa tersandera di sana. Kasus ini bisa enggak selesai-selesai.
Malah kacau nanti.

Ada kabar yang menyebutkan Refly dendam kepada Anda karena kasus
yang ia tangani sering Anda kalahkan?

Dalam testimoni di laporan investigasi itu, dia mengaku
geram kepada saya. Sengketa pemilihan kepala daerah yang saya tangani
memang banyak melibatkan dia, seperti Kabupaten Merauke, Simalungun,
dan Toli-toli. Tapi ada juga yang menang dan kalah. Itu kan biasa. Ia
juga menyebut saya bertemu orang di Jerman untuk menerima suap.
Bayangkan, sampai sesirik itu dia kepada saya.

Benar Anda pernah mendamprat Refly?

Iya, sekitar Oktober lalu, sebelum ia menulis opini di
Kompas. Saat itu kami ber temu di depan lift; disaksikan dua orang
wartawan dan karyawan lain. Saya bilang ke dia, "Jangan sembarang an
menuduh." Itu karena sebelumnya ia ngomong ke sana-kemari menyebut
saya menerima uang dari sengketa pemi lu kepala daerah Merauke. Ia
minta maaf. Eh, tulisan opini itu malah muncul.

http://majalah.tempointeraktif.com//id/arsip/2010/12/13/LU/mbm.20101213.LU135381.id.html

--
"One Touch In BOX"

To post : @googlegroups.com
Unsubscribe : -unsubscribe@@googlegroups.com

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus

Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.

www.idepintar.blogspot.com

◄ Newer Post Older Post ►
 

© Kini Aku Tahu Powered by Blogger